Monday, March 11, 2013

BeBo and Me

Dalam 10 tahun terakhir perkembangan gadget terjadi sangat pesat. Semua perusahaan sepertinya berlomba-lomba menyajikan dan menghasilkan produk dengan teknologi mutakhir dan tampilan yang futuristic. Mulai dari perusahaan besar seperti Apple, Blackberry, Nokia, Samsung sampai produsen-produsen gadget “abal-abal” dengan harga miring pun mulai menguatkan diri dengan produk smartphone hingga tabletnya. Fungsinya lebih kurang mirip: memfasilitasi manusia sebagai makhluk sosial serta memenuhi hasrat untuk eksis, kepo, dan gaya.

Dari sekian banyak produsen, yang paling sukses memasyarakat di teman-teman kuliah saya adalah Blackberry.

Kenapa saya bilang paling sukses, karena eh karena dari sekitar 170-an teman seangkatan, 147-nya sudah menggunakan smartphone ini! Dan fenomena alam tersebut tercapai hanya dalam waktu 3 tahun!

Ngomong-ngomong soal blackberry, saya akhirnya memutuskan untuk menjadi salah satu penggunanya pada lebih dari 2 tahun yang lalu. Waktu itu sih niatnya cuma ikut-ikutan pacar. Katanya,”Soalnya banyak info-info tu nyebarnya via BB, jadi biar nggak ketinggalan, harus punya!”. Siiiip dah, bos!!!

Bermodalkan duit 1,5 juta rupiah, saya akhirnya membeli blackberry curve 3G yang waktu itu baru saja keluar.  Dan karena uang yang saya bawa hanya cukup untuk membeli case dan chargernya saja, jadilah saya menggunakan modal saya yang lain: pacar. Yup, separuh BB saya adalah hasil utang yang sampai sekarang belum saya lunasi, mumpung yang diutangin nggak nagih-nagih ampe sekarang… Karena separuh aku, dirimu. Separuh BB-ku juga kamu yang bayar… *kedip*


tampilan BB curve 3G, kalo si Bebo (nama BB saya) sih sudah ancur *hiks

Banyak sekali manfaat yang didapat setelah menggunakan smartphone ini, di antaranya:

1.    Buat gaya.
Jaman dulu, harga BB yang lumayan dan paketnya yang aduhai banyak menguras pulsa (bagi anak kos sekelas saya) menjadi gengsi tersendiri. Bukannya sombong, tapi begitu mengeluarkan BB di khalayak umum (biarpun cuma curve), saaatt… level harga diri meningkat 1 tingkat, padahal sebenarnya sih  nggak ada yang memperhatikan, hehe... Jadi, biar kate ini BB ngutang, trus buat mengaktifkan BIS-nya saya harus mengencangkan ikat pinggang, nggak jadi soal! Yang penting PeDe…

2.    Eksis di jejaring social
Dulu untuk apdet facebook dan twitter saya harus keluar-masuk warnet, atau kalo masih “kaya” (baca: awal bulan) saya harus mengisi pulsa modem. Tapi berkat BB dan provider dengan paket BIS murah yang meng-cover sampai jejaring social, saya tetap bisa memenuhi KUE (Keinginan untuk eksis)  dengan biaya murah, kapan saja dan di mana saja..

3.    Go Green
Yap, dengan adanya BB kita bisa turut serta mengurangi penggunaan kertas, terutama dalam hal nyebar undangan, entah itu undangan ulang tahun, potong gigi, maupun pernikahan, semuanya bisa disebar via BBM atau grup. Tinggal aplod detail acara dan foto denahnya. Voila! Undangan tersebar ke seluruh angkatan! Makan-makan grateeeezzz… \(^.^)/

4.    Sukses Ujian
Ini bukan sukses dalam bagi-bagi jawaban saat ujian lho, tapi dengan adanya BB, koordinasi dalam rangka menyusun strategi lulus ujian satu angkatan dapat berjalan dengan baik dan lantjar djaja! Baru-baru ini kami menghadapi ujian kompetensi nasional dalam rangka meraih Surat Tanda Registrasi. Jadi demi itu kami membuat kelompok belajar bersama ala-ala jaman SD dulu. Ketua-ketua kelompok kemudian berkoordinasi dalam grup untuk menyebarkan informasi terapdet mengenai strategi ujian. Beritanya pun sangat berguna, misalnya:
“Ada fotokopi soal try out bimbingan belajar PASTI LULUS yang sudah disebar di 3 tempat: fotokopi A, B, C. 3 paket, harga Rp xxx, password ke mas-masnya : ZION”
Dan puji Tuhan 90% teman-teman seangkatan kami lulus ujian ini..

5.    Memenuhi HAK
Iya, dengan update status BBM, saya bisa memenuhi HAK(HAsrat Kepo)! Menderita penyakit kepo kronis akibat kurang kerjaan (menganggur sambil nunggu STR) kadang-kadang menyiksa juga. Jadi BB sudah bisa memfasilitasi saya dalam memenuhi HAK untuk mengetahui apdet-apdet kegiatan teman-teman selama waktu “libur” panjang ini.. apalagi dengan sinyal 3G simPATI yang handal, apdet apa-apa dari temen, nyampe dengan cepat, dan nggak kepo lagi..

Begitu banyak hal yang telah dipermudah dengan adanya Blackberry. Untuk itu, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada produsennya, pada orang yang saya utangin tanpa bunga dan bahkan nggak protes belum dibalikin sampai sekarang, serta pada provider yang telah menyediakan paket yang ramah kantong dan ramah sinyal (^^,)..

Everything at Once

Wednesday, January 2, 2013

dilema

just a quick post tentang dilema yang saya alami akhir-akhir ini. Selain nggak punya ide menulis, saya juga bosan dengan kandang keboo ini. Dan saya berpikir untuk membuat blog baru dengan nama saya sebagai alamatnya dan konsep yang lebih personal, bukan cuma lucu-lucuan, hehe... emang dasar masih labil nih gue.. tapi kalo saya hapus blog ini, sayang sama postingan yang selama ini menjadi jerih payah nguras otak dan menahan ketidaktahu malu an saya ini.. hiks... ada saran?


Everything at Once

Wednesday, December 5, 2012

Aku Peduli

“Data baru menyatakan bahwa tingkat emisi karbon dioksida secara global pada tahun 2012 mencapai 35,6 milyar ton, meningkat 2,6% dari tahun 2011, dan meningkat 58% dari tahun 1990.”

 

ilustrasi dari sini

35,6 milyar ton = 35,6 triliun kg = 35.600.000.000.000 kg!!!
wooww…. Itu angka nol banyak bener! Kalau itu beras, berapa tahun kita bisa swasembada beras?! Sayangnya itu bukan beras, tapi gas yang berefek buruk pada bumi.

*****

Go Green bukan merupakan suatu kampanye yang baru lagi. Konsep reduce, reuse, dan recycle sendiri adalah 3 hal sederhana yang telah lama diperkenalkan. Namun, tiga hal yang sederhana itulah yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi dari efek rumah kaca, dari pemanasan global yang mengikutinya. Terasa kan, kalau siang hari makin panas dan sumuk bila dibandingkan beberapa tahun yang lalu? Inilah dampak yang paling ditakutkan yakni perubahan iklim. Bukan tidak mungkin kalau daerah beriklim kutub berubah menjadi iklim continental, subtropis menjadi tropis. Bila sudah begitu, Indonesia yang beriklim tropis jadi beriklim apa? Gurun?

Manusialah yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas perburukan efek rumah kaca yang terjadi, karena manusia melalui aktifitasnya telah menyumbangkan emisi karbon kepada bumi secara signifikan. Sehingga kitalah yang harusnya berkontribusi menyelamatkan planet tercinta ini. Iya, dimulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Karena kalau bukan di bumi, di mana lagi kita dan anak-cucu kita bisa tinggal? (di hatimuuuu…. *alayers tereak*)

Berangkat dari itu semua, saya berkeinginan untuk turut serta menyelamatkan bumi. Tapi bagaimana caranya? Apalagi saya hanya sendiri dengan modal yang sangat terbatas. Untuk ikut komunitas yang beriuran rasanya berat, untuk makan di kos saja susah. Miris memang. Maka dari itu, saya kembali melirik prinsip reduce, reuse, dan recycle. Mulai dari diri sendiri di rumah dengan langkah kecil, sederhana, dan mudah.
ilustrasi dari sini
 REDUCE (Mengurangi penggunaan…)

Plastik

Ini mudah saja, misalnya saat berbelanja di warung atau toko, saya menolak tawaran kantong plastik dari pedagang karena sudah membawa tas sendiri, atau saat lupa bawa tas, saya sering memasukkan belanjaan ke dalam kantong pakaian dan kedua tangan. Bagaimanapun caranya, belanjaan harus muat dan selamat sampai kos, hehe.. Mungkin beberapa pedagang akan heran, tapi kebiasaan inilah yang membuat beberapa pedagang hafal dengan saya yang kadang memberikan diskon atau lauk ekstra. *wink* Selain itu, membawa botol minum sendiri juga mudah dan aplikatif, asal ingat dibawa setelah diisi dan dicuci setelah digunakan.

kendaraan bermotor

untuk bepergian pada jarak tertentu yang sebenarnya hanya perlu berjalan kaki 5 menit kebanyakan orang akan mengendarai sepeda motornya, tapi saya akan berusaha berjalan kaki walaupun hari hujan. Bila panas membara, saya akan menunda keperluan perjalanan hingga sore hari. Selain karena menghemat energi, di mana-mana ada tukang parkir yang siap nodong biaya parkir. Jadi sudah sehat dan hemat BBM, saya juga hemat recehan. *wink*

listrik

mematikan lampu dan elektronik yang sudah tidak digunakan adalah tindakan paling mudah yang dapat dilakukan. Selain itu, jeli sebelum membeli alat elektronik juga cukup penting. Misalnya saat membeli lampu, pilihlah lampu dengan lumen per watt yang tinggi (lpw), karena ini berarti bahwa lampu ini memiliki efisiensi yang tinggi. Dan biasanya lampu neon hemat energy (compact fluoresce lamp/CFL) memiliki lpw yang lebih tinggi dibanding lampu bohlam. Walaupun lebih mahal, lampu neon lebih hemat dalam hal konsumsi listrik dan 10 kali lebih awet, lho!

ilustrasi dari sini

Dalam memilih kulkas, sebaiknya dipilih yang letak freezernya di atas, bukan di samping karena lebih hemat energi hingga 7-13%. Untuk mesin cuci, dikatakan bahwa mesin cuci front door (pintu depan) lebih hemat air dan listrik dibandingkan dengan mesin cuci pintu atas. Namun akan lebih hemat lagi bila cucian ditumpuk hingga cukup banyak baru dicuci. Pakaian yang tidak terlalu kotor sebaiknya dicuci tangan saja, karena beberapa pakaian cenderung rusak bila dicuci mesin. Menggunakan pelembut sekali bilas juga sering saya pilih, selain hemat air juga hemat tenaga untuk mengucek dan memeras cucian.

Selain pemilihan alat elektronik, pemeliharaan juga perlu diperhatikan lho: AC, mesin cuci, dan kulkas akan lebih efisien bila kebersihannya terjaga. Elektronik yang telah berumur lebih dari 10 tahun juga sebaiknya diganti, karena elektronik modern biasanya lebih hemat dan ramah lingkungan. Dan entah orang tua berpikiran sama atau bosan melihat elektronik yang itu-itu aja sejak satu dekade lebih, beberapa waktu lalu elektronik tua di rumah diganti baru. Hohoho…

REUSE (Menggunakan Kembali)

Bagian belakang kertas bekas biasanya masih kosong, jadi sejak SD saya potong, susun ulang lalu tinggal beri cover dan jepretan yang cukup kuat dan dihias manis sesuka kita. Jadilah orak-orek eksklusif atau to-do list yang unik. Selain kertas, kaleng atau tempat cemilan(misalnya tabung Pringles) saya gunakan kembali sebagai celengan.  Dan kadang beberapa orang tertipu. :D

RECYCLE (Mendaur Ulang)

Pada tahap ini tidak banyak yang bisa saya lakukan, selain karena memang diperlukan kreatifitas dan keterampilan yang tinggi, saya juga termasuk pemalas yang ingin segalanya dilakukan secara praktis. Tapi ini bukan berarti saya tidak bisa melakukan apa-apa. Pembuangan sampah secara terpilah merupakan cara praktis membantu langkah recycle.  Namun sistem pembuangan sampah terpilah di Bali belum dapat berjalan secara efektif.

Sampah plastik khusunya botol sangat mudah untuk dikumpulkan pemulung. Namun sampah kertas, apalagi yang hanya selembar-dua lembar,  dengan tidak ragu dibejek dan dibuang begitu saja di tong sampah, sehingga berakhir sebagai produk tak teridentifikasi yang sama saja seperti sampah organik lainnya. Maka dari itu, saya “menggagas” pemilahan sampah kertas pribadi.

 Jadi, terdapat sebuah plastik atau dus besar tempat saya akan menaruh sampah kertas bekas seberapapun sedikitnya kertas itu, termasuk kitir belanja dan robekan surat cinta. Hehe.. Dan setelah dikumpulkan beberapa lama, biasanya baru terasa bahwa sebenarnya kita membuang banyak sekali kertas bekas meskipun tiap kali hanya membuang kertas yang tak sampai selembar kertas A5 besarnya. Setelah terkumpul cukup banyak baru biasanya saya loak sendiri atau berikan cuma-cuma ke pemulung beruntung.
ampe kertas undangan juga ditampung ^.^v

Selain itu salah satu distributor produk perawatan kulit juga menawarkan 5 poin utuk tiap 3 kemasan kosong yang dikembalikan, sehingga saya rajin mengumpulkan kemasannya yang kemudian saya bisa tukarkan dengan beberapa poin.

Itu sekilas “peran” saya dalam ikut serta menjadi manusia berbakti pada bumi. Jadi selain membantu menyelamatkan bumi, kita juga bisa menekan pengeluaran dan mendapat keuntungan..

Live wisely, and love earth.
Go Green!
Everything at Once
Related Posts with Thumbnails